LAYANAN APLIKASI PONDOK PESANTREN

Berbagai layanan lengkap pada aplikasi Pondok Pesantren untuk mempermudah pekerjaan Administrasi Pesantren Anda

MISRIU

  • MADRASAH ISLAMIYAH SALAFIYAH RIYADLOTUL ‘UQUL (MISRIU)

Pondok Pesantren Al Falah adalah sebuah Lembaga Pendidikan dan Pengajaran Islam ‘Ala Thoriqoh Salafiyyah (Standart Salafy Nasional) sebagaimana keputusan MUKER RMI tahun 1994 di Jakarta. Ada dua sistem pendidikan dan pengajaran yang diterapkan di Pondok Pesantren Al Falah, yakni sistem pendidikan klasikal dan non klasikal.

Dalam sistem klasikal ini terdapat 3 (tiga) jenjang Pendidikan yang dikelola melalui Madrasah Islamiyah Salafiyah Riyadlotul ‘Uqul (MISRIU), yaitu :

  1. Ibtidaiyah
  2. Tsanawiyah
  3. Aliyah

Pada tingkat Ibtidaiyah pendidikan ditempuh selama 3 tahun. Sasaran yang diprioritaskan di jenjang Pendidikan tingkat Ibtidaiyah adalah pembinaan Akhlaq (moral dan mental), pengembangan wawasan sosial anak, menulis huruf arab (khot), tajwid dan dan pengenalan dasar-dasar gramatika arab (Nahwu-Shorf) yang follow up-nya sebagai persiapan memasuki jenjang pendidikan tingkat Tsanawiyah. Jadwal keseluruhan mata pelajaran (Kurikulum Literal) dan kitab yang digunakan di tingkat Ibtidaiyah dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut :

Kelas

Fan / Kitab Muqorror

1 Ibtidaiyah

Akhlaq

[Mathlab]

Tauhid

 

[Aqidatul ‘Awam]

Tajwid

 

[Hidayatus Shibyan]

Fiqh

 

[Mabadi Fiqh I,II]

Tarikh

 

[Tarikh Nabi]

Al Qur’an

2 Ibtidaiyah

Akhlaq

[Tambihul Muta’allim]

Tauhid

 

[Khoridatul Bahiyah]

Tajwid

 

[Tuhfatul Athfal]

Fiqh

 

[Mabadi Fiqh III,IV ]

Tarikh

 

[Nurul Yaqin I]

Al Qur’an

3 Ibtidaiyah

Akhlaq

[Washoya]

Tauhid

 

[Bad’ul Amali]

Tajwid

 

[Hidayatul Mustafid]

Fiqh

 

[Tanwirul Hija]

Tarikh

 

[Nurul Yaqin II]

Al Qur’an

Nahwu

 

[Syabrowi]

Shorf

 

[Q. Shorfiyah]

Al Amtsilah al-Tashrifiyah

 

Sedangkan untuk tingkat Tsanawiyah-Aliyah, materi yang diberikan lebih ditekankan pada pendalaman ilmu gramatika arab (Nahwu-Shorf) -dimana taqrirot (ulasan) dan maroji’ (referensi) nya banyak diambil dari kitab-kitab Nahwu-Shorf yang sudah masyhur seperti Ibnu Aqil, Dahlan Alfiyah, As Shoban dll. Disamping juga melengkapi pelajaran lain seperti Fiqh, Faro‘idl, Qowaidul I’rob, Risalatul Mahidl dan Mustholah Hadist. Dan di tingkat Akhir MISRIU, materi yang disampaikan lebih dititikberatkan pada penguasaan ilmu kesusasteraan arab (Balaghoh), ilmu logika (Mantiq), Ushul Fiqh, Qowa’idul Fiqhiyah, dan ilmu Falak-Hisab (astronomi) yang follow up-nya sebagai persiapan menghadapi jenjang pendidikan berikutnya di Riyadotut Tholabah atau biasa dikenal dengan istilah Musyawirin. Keseluruhan mata pelajaran Tsanawiyah dan Aliyah dapat dilihat pada tabel berikut :

Kelas

Fan / Kitab Muqorror

 1 Tsanawiyah

Nahwu

[Jurumiyah]

Shorf

[Qowa’idul I’lal, Qowa’idus Shorfiyah, Qowa’idul Lughowi, Al Amtsilah al-Tashrifiyah]

Tadribul I’rob

Tauhid

 

[Tijan al-Durori & Jawahirul Kalamiyah]

Fiqh

[Riyadlul Badi’ah]

 2-3 Tsanawiyah

Nahwu

[Al Imrithi]

Shorof

[Maqsud & Al Amtsilah at-Tashrifiyah]

‘Arudh wal Qowafiy

Tauhid

 

[Jauharotut tauhid]

Fiqh

[Sullam al-Taufiq]

1 Aliyah

 

 

Nahwu-Shorf

[Alfiyah]

Qowa’idul I’robRisalatul Mahid
Fiqh

 

[Fathul Qorib I]

Mustholah Hadist

 

[al-Baiquniyah]

Faroidl

[Rohabiyah]

2-3 Aliyah

 

 

Balaghoh

[Jauharul Maknun]

Mantiq

 

[Sullam al-Munauroq]

Ushul Fiqh

 

[al-Waroqot]

Qowaidul Fiqhiyah

[Faroidul Bahiyah]

Fiqh

  [Fathul qorib II]

Faroidl

[‘Iddatul Faridl]

Falak

 

[Tibyanul Miqot]

Hisab

 

[Sullam al-Nayyiroin]

Praktek Falak-Hisab

 

Meskipun pelajaran yang disampaikan di MISRIU sepintas terlihat sedikit dan ringkas, karena hanya berupa Taqrirot (ulasan), namun para santri dalam menggali kandungan pemahaman yang dalam butuh mengkaji maroji’ (referensi) dari kitab-kitab syarah yang sudah masyhur seperti Ibnu Aqil, Dahlan Alfiyah, As Shoban, Syarh al-Juman, Syuruh al-Talkhis,  Idhohul Mubham, al-Luma’, al-Asybah wa an-Nazhair, dan masih banyak lagi yang lain.

Sejak tahun 2009, Madrasah Islamiyah Salafiyah Riyadlotul ‘Uqul (MISRIU) mendapatkan pengakuan pemerintah melalui Kementerian Agama sebagai Satuan Pendidikan Muadalah. Sehingga siswa yang dinyatakan lulus berdasarkan hasil ujian berhak mendapatkan ijazah setingkat Ulya serta memiliki kedudukan dan hak yang sama dengan pemegang ijazah formal lainnya untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, di dalam maupun di luar negeri. Bahkan pada tahun 2019, madrasah MISRIU juga sudah mendapatkan izin operasional sebagai Satuan Pendidikan Muadalah tingkat Wustha, tanpa sedikitpun merubah sistem pendidikan dan kajian yang sudah diletakkan oleh sang Muassisal maghfur lah KH. Ahmad Djazuli Utsman.

Bagi siswa yang mendaftar mulai bulan Muharrom akan di masukkan dalam komunitas tersendiri yaitu sekolah persiapan (I’dadiyah). Hal ini dimaksudkan sebagai langkah persiapan memasuki jenjang MISRIU, disamping karena perjalanan kalender pendidikan sudah mencapai tengah semester.

I’dadiyah ini sendiri terdiri 2 (dua) tingkatan. Tingkat I I’dadiyah sebagai pengenalan baca tulis huruf arab sekaligus sebagai persiapan masuk kelas dua atau tiga Ibtidaiyah. Tingkat II I’dadiyah sebagai persiapan masuk di kelas 1 Tsanawiyah. Para santri tamatan tingkat I’dadiyah pada tahun ajaran berikutnya akan direkomendasikan masuk MISRIU sesuai kemampuan masing-masing. Adapun mata pelajaran sekolah persiapan (I’dadiyah) dapat dilihat dalam tabel berikut :

Kelas

Fan / Kitab Muqorror

1 SP

Tauhid

[Aqidatul ‘Awam]

Fiqh

 

[Mabadi Fiqh III]

Akhlaq

 

[Mathlab]

Tahsinul Khot

Tajwid

[Hidayatus Shibyan & Tuhfatul Athfal]

Al Qur’an

2 SP

Tauhid

[Bad’ul Amali]

Tajwid

 

[Hidayatul Mustafid]

Fiqh

 

[Safinatunnaja]

Akhlaq

[Washoya]

Nahwu

[Syabrowi]

Shorf

 

[Q. Shorfiyah]

Al Amtsilah al-Tashrifiyah

Al Qur’an

 

Sistem klasikal ini dalam segala jenjang dan tingkatannya merupakan jenjang pendidikan yang wajib diikuti oleh santri yang menuntut ilmu di Pondok Pesantren Al Falah. Kegiatan Belajar Mengajar di mulai pukul 07.30 WIB sampai pukul 11.00 WIB. Kegiatan yang berangkat dari sistem klasikal ini tidak hanya dilakukan pada pagi hari, akan tetapi juga pada malam hari melalui kegiatan musyawarah yang harus diikuti semua santri yang dipimpin oleh ketua atau wakil ketua musyawarah dan selalu di bimbing oleh para Asatidz. Kegiatan musyawarah ini dimulai pukul 20.00 WIB, dan diakhiri pukul 22.00 WIB (untuk tingkat Ibtidaiyah) atau pukul 22.30 (untuk tingkat Tsanawiyah), bahkan untuk tingkat Aliyah terutama yang mendalami pelajaran Alfiyah, musyawarah baru bisa diakhiri pukul 23.30 atau 24.00 WIB apabila materi yang didiskusikan sulit dan banyak. Sebelum berangkat muyawarah, para santri telah dibekali materi yang disampaikan oleh para senior di asrama masing-masing. Hal ini, selain didasari dari pesan kitab ta’lim untuk selalu mudzakaroh dan muroja’ah , juga untuk melatih para santri agar aktif dan mandiri dalam memahami pelajaran. Sebab metode yang diterapkan di MISRIU berupa CBSA (cara belajar Santri Aktif), dimana peran guru hanya membacakan pelajaran dan meluruskan pemahaman santri yang kurang benar.

MUSYAWIRIN

  • Jam’iyah Musyawarah Riyadlotut Tholabah (JMRT)

Setelah santri menamatkan pendidikannya di jenjang MISRIU, berikutnya santri akan ditempa di jenjang musyawarah Riyadlotut Tolabah. Sistem yang diterapkan pada jenjang ini yang dijadikan stressing adalah pada kemandirian berfikir, keberanian mengambil keputusan yang bertanggung jawab dengan benar, terutama masalah–masalah fiqhiyah sesuai dengan perkembangan sosial masyarakat berikut segala  problematikannya. Diharapkan setelah menamatkan jenjang ini, para santri benar–benar menjadi generasi militan yang siap dan sanggup menghadapi segala tantangan zaman. Al maghfur lah KH. Ahmad Djazuli Utsman pernah berpesan :”santri-santri nek wes tamat madrasah ojo langsung boyong, syawir disek minimal telung tahun. Insya Allah, Insya Allah, Insya Allah.” Kurang lebih maksudnya adalah “para santri setelah tamat di madrasah MISRIU, jangan terburu-buru pulang, akan tetapi ikut kegiatan musyawarah kitab Fathul Qorib, Fathul Mu’in, Fathul Wahhab.  Terselip do’a dari sang muassis Al Falah yang sangat luas dan dalam artinya dalam bahasa Insya Allah, Insya Allah, Insya Allah.

Pada awalnya kegiatan musyawarah memang berlangsung selama tiga tahun, namun seiring perkembangnnya akhirnya dilaksanakan selama lima tahun. Jenjang musyawarah Riyadlotut Tholabah ini terdiri tiga fraksi :

  • Fraksi Fathul Qorib (1 Tahun)

Berbekal ilmu yang telah diperoleh pada jenjang Aliyah (Ushul Fiqh, Qowaidul Fiqhiyah, Balaghoh, Mantiq dll) para santri dituntut untuk bisa menguasai materi kitab Fathul Qorib sekaligus pendapat-pendapat (qoul) ashabul madzhab yang setuju dengan ijtihadnya imam madzhab dengan referensi kitab-kitab syarh maupun hasyiyah. Pada prakteknya kajian kitab Fathul Qorib diselesaikan dalam waktu + 6 bulan, dan setelah itu dilanjutkan dengan kajian kitab Fathul Mu’in.

  • Fraksi Fathul Mu’in (1 Tahun)

Pada fraksi ini santri dibimbing untuk mampu memahami tekstual kitab Fathul Mu’in. Berbekal materi yang telah didapatkan di fraksi Fathul Qorib santri di antarkan untuk mengetahui pendapat-pendapat Ashabul Mazhab yang setuju ataupun yang tidak setuju dengan Imam Madzhab. Yang pada akhirnya para santri bisa memberikan solusi seputar Masa’il Waqi’iyah dengan tanpa keluar dari pendapat Ashabul Madzhab.

  • Fraksi Fathul Wahhab ( 3 Tahun )

Pada tingkat Fathil Wahhab inilah para santri diajarkan bagaimana A’immatul Mazahib berijtihad dengan referensi ayat-ayat Al Qur’an, As Sunnah, Ijma’ Dan Qiyas. Disini para santri akan mengetahui cara mengambil kesimpulan dan menyesuaikan dalill (thoriqotul istinbat wal istidlal) para Imam Mazhab dan mengetahui pendapat-pendapat Ulama-Ulama yang setuju ataupun tidak setuju dalam satu Madzhab maupun lintas Madzhab.

Disamping mengkaji tsalatsu futuhat yakni Fathul Qorib, Fathul Mu’in, Fathul Wahhab, para santri juga belajar berbagai literatur kitab Fiqh, Hadits, Tafsir, Tasawuf dll yang dijadikan referensi dalam memahami tekstual kitab Matn (asal), serta dijadikan perbandingan pendapat-pendapat  yang kontradiktif (khilaf).